Berbekal keberanian dan
alamat yang belum jelas juga kepastiannya, mereka berangkat. Mereka berangkat
menaiki kereta di stasiun Lombthumb menuju Hillthumb. Flo sibuk memikirkan cara
untuk mengalahkan Wender, musuh lamanya. Dan Arlert sibuk memikirkan apa yang
harus dilakukannya nanti saat sudah berhadapan dengan Wender. Arlert tak
mungkin menyerahkan semuanya pada Flo, karena Arlert ingin mengalahkan Wender
di tangannya sendiri.
Tak berapa
lama kemudian, mereka sampai di Hillthumb dan bergegas mencari hotel Miscrash.
Dan mulai menanyakan keberadaan Miller dan Wender.
“Nona, apakah disini ada orang yang menginap bernama ‘Miller’?”, Tanya Flo kepada resepsionis hotel tersebut.
“Sebentar, saya check terlebih dahulu”, kata resepsionis hotel sembari melihat daftar tamu hotel tersebut.
“Ah, ada tuan, yang bernama Miller, di kamar nomor 206. Di lantai 2”.
“Oh baiklah, terimakasih”.
“Terimakasih kembali”.
Mereka
bergegas menuju kamar nomor 206. Dengan sangat tergesa-gesa Flo pergi ke
ruangan tersebut, sampai-sampai Arlert ditinggalnya. Arlert kebingungan dimana
dia harus berjalan, tapi Flo tetap saja berlari tanpa memikirkan Arlert. Arlert
pun memutuskan untuk pergi ke toilet karena dia sudah tak tahan ingin buang air
kecil sejak dia sampai di hotel Miscrash. Di dalam kamar mandi dia mendengar
suara rebut di luar, suara nya masih berada di ruang toilet. Saat Arlert
keluar, dia tercengan melihat 2 orang ber-tuxedo saling menodongkan senjata api
nya satu sama lain. Arlert langsung bersembunyi di dalam kamar mandi yang
ditempatinya tadi dan menunggu keributan itu reda. Namun, keributan malah
semakin menjadi-jadi, Arlert semakin panik dan bingung harus bagaimana.
Sementara di luar sana, dua orang tadi masih saja bertengkar. DOORRRRRRRRRR, tak
lama, terdengar suara tembakan. Arlert semakin panik, semakin panik. Lalu,
Arlert mencoba mengintip sedikit keluar kamar mandi dan dua orang tadi telah
tewas terkapar dan tepat di depan dua orang itu, berdiri seorang laki-laki yang
berwajah seram dan Arlert sangat mengenali pakaian pria tersebut yang tidak
lain tidak bukan, adalah Wender. Arlert yang tadi nya panic menjadi berubah
emosi. Hatinya meluap-luap karena di hadapannya ada seorang yang begitu ia
dendami, dengan sangat berani dia keluar dari tempatnya sembunyi dan memanggil
Wender.
“Hei kau!”, teriak Arlert dengan marahnya.
Wender langsung menoleh dan kaget karena mengira di tempat itu tidak ada orang lain malah yang ada di hadapannya adalah orang yang menganggapnya sebagai musuh.
**Meanwhile**
Flo
ternyata sudah sampai di tempat persembunyian Miller dan Wender. Lalu, iya
mengetuk pintu kamar tersebut. Tok tok tok.
“Ya? Silahkan masuk”, kata orang di dalam kamar tersebut.
Flo langsung meyakini bahwa itu suara Miller. Flo membuka pintu itu dan mulai masuk. Dan benar, itu adalah Miller, tapi Wender tidak ada disana.
“Oooh, kawan lama ku Flo. Apa kabar? Silahkan duduk”.
“Tak usah bersikap seperti itu, aku mencari Wender. Dimana dia?”.
“Dia tadi keluar, katanya ada urusan”.
“Urusan??”.
“Entah, dia merahasiakannya dariku”.
Flo jadi teringat Arlert. “Oh iya, dimana Arlert? Apa aku meninggalkannya?”, gerutu nya dalam hati.
“Ada hal apa kau ingin menemui Wender?”, sambil menuangkan minuman untuk Flo.
“Ada yang ingin kubicarakan”, ucap Flo sinis.
“O,o,oooooh, ada yang ingin dibicarakan teman lama, ya? Atau tepatnya musuh lama. Hahahaha”, ejek Miller. “Bagaimana kabar Max? Dia masih jadi atasanmu kan?”.
“Iya, dia baik-baik saja, hanya saja tambah cerewet”.
“Kau sepertinya sedang gelisah, ada apa, Flo?”.
“Ah tidak apa-apa”.
“Benarkah? Nah, minumlah ini untuk menenangkan pikiranmu”.
******
Arlert mulai
bertatap mata dengan musuh besarnya, Wender. Wender membalasnya dengan tatapan
tajamnya.
“Ada apa, nak?”.
“Bukan apa-apa. Apakah kau masih mengingatku??”. “Kau masih mengingatku?! Hahhhh?!”, tanya Arlert dengan geram.
Wender berusaha mengingat-ingat siapa pemuda yang ada di hadapannya tersebut. Dan ia mulai teringat.
“Yaa, aku adalah anak dari ibu yang pernah kau bunuh 9 tahun lalu. Kau berusaha melupakannya ya? Akhirnya kita bias bertemu”.
Wender tiba-tiba merasa takut. Entah apa yang membuatnya takut. Perasaan mencekam yang dia terima dari pemuda di hadapannya membuatnya terpojok.
******
Flo mulai
khawatir dengan Arlert. Flo pun pergi menuju toilet. Dan saat masuk dia melihat
dua orang yang seperti serigala dan kucing sedang beradu. Dari sini,
pertarungan dimulai!

