Arlert Notes

Catatan dari saya, Rama Arlert dan semua karya juga persembahan saya

Sabtu, 03 Mei 2014 di 12:24:00 PM Diposting oleh Unknown 0 Comments

     Direct Contact



    Berbekal keberanian dan alamat yang belum jelas juga kepastiannya, mereka berangkat. Mereka berangkat menaiki kereta di stasiun Lombthumb menuju Hillthumb. Flo sibuk memikirkan cara untuk mengalahkan Wender, musuh lamanya. Dan Arlert sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya nanti saat sudah berhadapan dengan Wender. Arlert tak mungkin menyerahkan semuanya pada Flo, karena Arlert ingin mengalahkan Wender di tangannya sendiri.
     Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di Hillthumb dan bergegas mencari hotel Miscrash. Dan mulai menanyakan keberadaan Miller dan Wender.

“Nona, apakah disini ada orang yang menginap bernama ‘Miller’?”, Tanya Flo kepada resepsionis hotel tersebut.

“Sebentar, saya check terlebih dahulu”, kata resepsionis hotel sembari melihat daftar tamu hotel tersebut.

“Ah, ada tuan, yang bernama Miller, di kamar nomor 206. Di lantai 2”.

“Oh baiklah, terimakasih”.

“Terimakasih kembali”.
     Mereka bergegas menuju kamar nomor 206. Dengan sangat tergesa-gesa Flo pergi ke ruangan tersebut, sampai-sampai Arlert ditinggalnya. Arlert kebingungan dimana dia harus berjalan, tapi Flo tetap saja berlari tanpa memikirkan Arlert. Arlert pun memutuskan untuk pergi ke toilet karena dia sudah tak tahan ingin buang air kecil sejak dia sampai di hotel Miscrash. Di dalam kamar mandi dia mendengar suara rebut di luar, suara nya masih berada di ruang toilet. Saat Arlert keluar, dia tercengan melihat 2 orang ber-tuxedo saling menodongkan senjata api nya satu sama lain. Arlert langsung bersembunyi di dalam kamar mandi yang ditempatinya tadi dan menunggu keributan itu reda. Namun, keributan malah semakin menjadi-jadi, Arlert semakin panik dan bingung harus bagaimana. Sementara di luar sana, dua orang tadi masih saja bertengkar. DOORRRRRRRRRR, tak lama, terdengar suara tembakan. Arlert semakin panik, semakin panik. Lalu, Arlert mencoba mengintip sedikit keluar kamar mandi dan dua orang tadi telah tewas terkapar dan tepat di depan dua orang itu, berdiri seorang laki-laki yang berwajah seram dan Arlert sangat mengenali pakaian pria tersebut yang tidak lain tidak bukan, adalah Wender. Arlert yang tadi nya panic menjadi berubah emosi. Hatinya meluap-luap karena di hadapannya ada seorang yang begitu ia dendami, dengan sangat berani dia keluar dari tempatnya sembunyi dan memanggil Wender.

“Hei kau!”, teriak Arlert dengan marahnya.
  
    Wender langsung menoleh dan kaget karena mengira di tempat itu tidak ada orang lain malah yang ada di hadapannya adalah orang yang menganggapnya sebagai musuh.

**Meanwhile**
   
     Flo ternyata sudah sampai di tempat persembunyian Miller dan Wender. Lalu, iya mengetuk pintu kamar tersebut. Tok tok tok.

“Ya? Silahkan masuk”, kata orang di dalam kamar tersebut.
    
     Flo langsung meyakini bahwa itu suara Miller. Flo membuka pintu itu dan mulai masuk. Dan benar, itu adalah Miller, tapi Wender tidak ada disana.

“Oooh, kawan lama ku Flo. Apa kabar? Silahkan duduk”.

“Tak usah bersikap seperti itu, aku mencari Wender. Dimana dia?”.

“Dia tadi keluar, katanya ada urusan”.

“Urusan??”.

“Entah, dia merahasiakannya dariku”.
     
        Flo jadi teringat Arlert. “Oh iya, dimana Arlert? Apa aku meninggalkannya?”, gerutu nya dalam hati.

“Ada hal apa kau ingin menemui Wender?”, sambil menuangkan minuman untuk Flo.

“Ada yang ingin kubicarakan”, ucap Flo sinis.

“O,o,oooooh, ada yang ingin dibicarakan teman lama, ya? Atau tepatnya musuh lama. Hahahaha”, ejek Miller. “Bagaimana kabar Max? Dia masih jadi atasanmu kan?”.

“Iya, dia baik-baik saja, hanya saja tambah cerewet”.

“Kau sepertinya sedang gelisah, ada apa, Flo?”.

“Ah tidak apa-apa”.

Benarkah? Nah, minumlah ini untuk menenangkan pikiranmu”.
******
   Arlert mulai bertatap mata dengan musuh besarnya, Wender. Wender membalasnya dengan tatapan tajamnya.

“Ada apa, nak?”.

“Bukan apa-apa. Apakah kau masih mengingatku??”. “Kau masih mengingatku?! Hahhhh?!”, tanya Arlert dengan geram.
  
     Wender berusaha mengingat-ingat siapa pemuda yang ada di hadapannya tersebut. Dan ia mulai teringat.

“Yaa, aku adalah anak dari ibu yang pernah kau bunuh 9 tahun lalu. Kau berusaha melupakannya ya? Akhirnya kita bias bertemu”.
   
    Wender tiba-tiba merasa takut. Entah apa yang membuatnya takut. Perasaan mencekam yang dia terima dari pemuda di hadapannya membuatnya terpojok.
******
    Flo mulai khawatir dengan Arlert. Flo pun pergi menuju toilet. Dan saat masuk dia melihat dua orang yang seperti serigala dan kucing sedang beradu. Dari sini, pertarungan dimulai!

Rabu, 30 April 2014 di 1:55:00 PM Diposting oleh Unknown 0 Comments

HATE AND FAITHLESS



Desa Florenti, Kota Wallcott, Negara Bagian Wallcott, Kagazie.

"Ya? Kali ini tugasnya membunuh ibu dan anak?".

"Ya, cepatlah basmi mereka! Berikan aku uang dan aku akan memberimu juga, Wender!", teriak bos-nya melalui telepon.

"Iya, cerewet sekali kau itu!". Tut tut tuuuuuut, Wender langsung mematikan telepon bos-nya tersebut.


******
 Wender menuju tempat yang ditargetkannya,dia berjalan dengan sangat tenang. Dan sampailah dia di tempat yang dituju. Exactly! Target dalam posisi yang diharapkannya,yaitu terbaring di tempat tidur di kamar yang terkunci,bahkan 2 target sekaligus!
   Wender pun melakukan tugasnya. Masuk perlahan dan .............. CRAAASHHHHHHH!!! Kedua target dilumpuhkan seketika,seketika itu juga Wender melarikan diri. Saat Wender melarikan diri,tanpa disadarinya,wanita tersebut mempunyai dua anak,dan salah satu anak tersebut melihatnya melarikan diri juga melihat ibu dan saudaranya tewas seketika.
   Anak itu masih mengingat baju yang dikenakan Wender dan dengan tatapan dendam,dia terus mencari Wender.

******

 9 tahun kemudian

  Tergeletaklah sebuah kertas kecil yang bertuliskan dan menggambarkan kerinduan laki-laki kepada sosok keluarganya. Ibu,adik dan ayah. Disamping kertas itu,tertulis nama "Killer".

"Aku akan mencarimu!", gerutu anak tersebut dan menggenggam erat kertas tersebut.

 Ya,dia adalah anak pertama dari wanita yang dibunuh oleh Wender yang menjadi saksi mata pembunuhan yang dilakukan Wender tersebut,dia bernama Arlert.
  Dia setiap harinya pergi keluar,kuliah dan setelah menyelesaikan mata kuliah setiap harinya dia pergi mencari Wender dengan selebaran yang menggambarkan Wender. Sampai suatu hari,dia bertemu dengan pria yang juga pernah bekerja sama dengan Wender.

"Apa kau pernah melihat orang ini?", Arlert selalu menanyakannya ke setiap orang di kota Wallcott.

"Aku pernah melihatnya", jawab orang sangar yang sedang mengulum permen karet dengan syal di lehernya.

"Hah? Benarkah?", tanya Arlert dengan mengeraskan suaranya dan mendekati pria itu.

"Iya,aku bahkan pernah berteman dengannya. Ada hal aoa kau mencarinya, anak muda?"

"Bahkan, kau dan aku hanya berbeda umur sedikit,tapi kau memanggilku seperti aku masih anak-anak. Bisa aku tanya sesuatu?".

"Tentu saja. Kenapa tidak?".

  Lalu mereka berjalan menuju sebuah cafe untuk mengobrol lebih dekat.

"Nah,sebelumnya,biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku, Arlert".

"Aku Florenti,sama seperti nama desa ini".

"Ooh. Flo, sejauh apa kau tau tentang Wender?".

"Wender adalah seorang pembunuh bayaran seperti ku yang bounty nya jauh di atasku. 500000 Gold, sedangkan aku 460000 Gold".

"Aku tidak tanya tentang itu".

"Tadi kan kau bertanya untuk jawaban itu".

"Oh iya,lalu ....."


"Lalu apa?", sambung Flo.

"Kau juga pembunuh bayaran ya?".

"Jangan keras-keras! Bisa-bisa aku ditangkap disini!"

"Maaf, hehe. Kira-kira kau tau dimana Wender sekarang?"

"Dia selalu kabur saat kuajak bicara. Menurut kabar angin, bos-nya sekarang menetap disini. Di suatu hotel atau apartemen bersama Wender".

"Kau tahu tepatnya dimana?"

"Tidak, tapi aku bisa membantumu".

"Kau ingin membantuku?".

"Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa", jawab Flo meyakinkan.

"Terimakasih banyak Flo, kau adalah pembunuh bayaran yang baiiikkkkk!!!!!!".

   Seketika seluruh pengunjung dan orang yang berada di dalam cafe menengok ke arah Flo dan Arlert. Flo langsung menarik Arlert keluar dari cafe. Bisa-bisa dia ditangkap hidup-hidup dan diserahkan ke pemerintah.

"Aku 'kan sudah bilang, jangan bilang tentang pembunuh bayaran(Paykiller) keras-keras".

"Ma, maafkan aku, aku lupa".

"Baiklah, tapi jangan ucapkan hal tadi lagi. Bisa-bisa aku jadi incaran pemerintah".

"Tapi, bukankah kau sudah diincar".

"Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraan tadi di kantorku!"

"Kau bekerja seperti dinas, ya?".

"Bukan, tepatnya kantor bos-ku. Ayo cepat!", ucap Flo sambil menarik tangan Arlert menuju kantornya.
******
"Nah, ada apa Floren, kau membawa anak kecil ke kantorku?", tanya bos Flo.

"Panggil aku Flo saja. Apakah kau tau Wender??".

"Wender, Wender, Wender, ada apa dengan dia?".

"Aku mencarinya!", sambung Arlert.

"Oooh, kau mencarinya? Kau ingin menyewanya? Mengapa tidak menyewa Flo saja? Dia profesional, lho".

"Ini bukan masalah itu, dia mencarinya, karena dia ingin balas dendam", jawab Flo.

"Oh, untuk apa balas dendam kepada seorang paykiller? Ingin menggali kuburmu sendiri, Nak?"

"Bukan begitu, om. A-A-Aku ingin membalaskan dendamku karena dia telah merenggut orang tua ku dari hidupku! Juga saudaraku!"

"Jangan panggil om, aku Max. Apakah kau yakin dia yang merenggutnya? Mengapa kau tidak berpikir bahwa itu takdir Tuhan?
Anna Scarlet, Penyair Kagazie zaman dulu pernah berkata :
Mensyukuri dan menikmati
Begitu juga mengalami
Kedaan seperih disini
Menjadikan hal itu sebagai teguran Illahi
Teruslah meyakini
Ini tidak abadi".

"Sia-sia datang kemari kalau hanya diceramahinya. Ayo Arlert, kita saja yang mencarinya, dasar Max tukang berbelit-belit", gerutu Flo.

"Hahaha, jangan lah marah seperti itu Flo, aku hanya menambahkan sedikit wawasan, hahaha".

"Wawasan apanya? Kau membuatnya bingung, bodoh!", bentak Flo yang sudah terlalu kesal dengan pembicaraan bos-nya yang kesana kemari. Lantas dia bergegas meninggalkan ruangan bos-nya.

 Arlert pun berniat mengikuti Flo tapi Max mencegahnya.

"Hahaha, tenanglah, Nak. Aku akan berbicara dengan benar. Biarkan Flo keluar, biarkan dia mendinginkan kepalanya. Nah, apa yang ingin kau tanyakan??"

"Begini, tuan Max...."

"Panggil saja aku Max".

"I-Iya, Max. Apakah kau begitu mengenali Wender?".

"Aku dulu pernah mengatasinya dan dulu dia pernah menjadi bawahanku selama 2 minggu lalu Flo menggantikan posisinya. Dia adalah pembunuh yang gila uang dan darah, walaupun semua pembunuh adalah orang yang seperti itu, tapi Wender berbeda. Dia begitu benar-benar mengincar kemakmuran dan keinginannya semata. Yang kutahu, dia bukanlah orang yang tanggung-tanggung. Kau ingin membalaskan dendam mu? Apa yang telah dilakukannya terhadapmu?"

"Dia telah membunuh ibu dan adikku. (tersedu-sedu) Aku ingin membunuhnya juga, hiks, hiks. Dengan begitu, hiks, aku akan hidup tanpa bayang-bayang nya. Dia selalu muncul dalam mimpiku. Aku ingin menghancurkannya! Seperti apa yang dia lakukan pada ku!".

"Lantas dimana ayah mu sekarang, Nak?".

"Dia, aku tidak tahu apa-apa tentang ayahku. Ibu tak pernah menceritakannya".

"Kuberi sedikit informasi tentang Wender. Kini, Wender dan bos-nya, Miller sedang berada di hotel Miscrash di kota Hillthumb, negara bagian Warloth di utara. Ini, aku punya petanya (melempar peta pada Arlert)". "Kau boleh meminjam Flo sementara waktu, dia biasa bertahan hidup, hahaha", sambung Max.

"Terimakasih banyak, Max. Aku banyak berhutang budi padamu. Bagaimana aku bisa membayarnya?".

"Dengan 2000 Gold".

"Ah, aku punya, ini dia (menyerahkan uang Gold yang ia punya".

"Hati-hati di jalan, Nak. Warloth itu negara bagian yang lumayan ramai, kedua, jangan buat Flo marah, dia pembunuh bayaran, lho".

"Haha, iya, lalu siapa yang akan menggantikan Flo sementara?".

"Sepupu Flo, Rosvelt, dia akan kupekerjakan dan kulatih seperti Flo. Cepat, jalan Nak!".

"Okay, thanks Max".

"Welcome".

  Arlert bergegas keluar dari kantor Max. Dan ternyata Flo berdiam diri dan bersandar di dekat pintu kantor tersebut. Arlert pikir dia sudah pergi dan Arlert juga ingin segera mencarinya, tapi ternyata dia sedang bersandar, mungkin benar kata Max dia ingin mendinginkan kepalanya.

"Ayo kita pergi!", ajak Flo.

"Jadi k-kau, berdiam diri disini juga mendengarkan pembicaraan kami?".

"Kau kira aku karang? Yang hanya bisa diam? Ayo, kita bergegas mencari Wender, aku juga akan membaalskan dendamku".
    Arlert tersenyum semangat, Flo juga ternyata bersemangat seperti dirinya.

Rama Arlert. Diberdayakan oleh Blogger.

    About Me

    Followers